Jumat, 12 Agustus 2016

MASA DEPAN ILMU-ILMU KEISLAMAN



MASA DEPAN ILMU-ILMU KEISLAMAN

Oleh Fathor Rachman, M.Pd.*

Lemahnya eksistensi dan prospek ilmu-ilmu keislaman dan institusi pendidikan Islam dibanding ilmu-ilmu umum dan lembaga pendidikan sekuler merupakan titik klimaks dari pemahaman masyarakat Islam yang cenderung dikotomik. Hal ini terjadi karena masih kuatnya anggapan masyarakat luas bahwa antara ”ilmu-ilmu agama (Islam)” dan ”ilmu-ilmu umum (sekuler)” merupakan dua entitas yang sulit dipertemukan. Keduanya terpisah dan mempunyai wilayah sendiri-sendiri, mulai dari segi objek formal, materi, sistem, metode hingga pada institusi penyelenggaranya.
Itulah sebuah gambaran aktivitas keilmuan yang telah lama mengakar kuat dalam kehidupan, khususnya umat Islam di tanah air, hingga berakibat pada praktek pendidikan yang berkembang luas di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan segala implikasi negatif yang ditimbulkannya. Akibatnya, perkembangan dan pertumbuhan ilmu-ilmu umum sebagai simbol keberhasilan lembaga pendidikan sekuler telah banyak tercerabut dari nilai-nilai moral dan etika keagamaan.
Sementara di pihak lain, pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam yang lebih menekankan pada ilmu-ilmu keagamaan secara formal-normatif, telah mengalami masa stagnasi (kemunduran) yang berdampak pada sulitnya melahirkan tenaga-tenaga terampil yang memiliki life skill yang tinggi dan mumpuni. Akhirnya, dikotomi keilmuan di atas telah mengalami perkembangan yang kurang sehat dan berdampak pada perkembangan pemikiran keilmuan dan praktek pendidikan, kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik dan sistem keagamaan.

Mengakhiri Dikotomi dan Pengembangan Epistemologi Keilmuan
Gambaran realitas keilmuan di atas, dalam perjalanannya telah mengalami semacam ”titik kejenuhan’ yang tampak pada eksistensi lembaga pendidikan umum (dengan ilmu-ilmu sekuler yang dikembangkannya) dan eksistensi lembaga pendidikan Islam (dengan ilmu-ilmu keagamaan yang dipertahankannya) telah mulai terjangkit krisis relevansi keilmuan karena banyak mengalami kebuntuan dalam upaya memecahkan persoalan kemanusian yang terus berubah seiring dengan perkembangan kehidupan, terutama ketika dihadapkan pada isu-isu modernisai, globalisasi dan industrialiasi.
Hal ini bisa dibuktikan dari banyaknya ilmuwan-ilmuwan sekuler yang mengalami kekeringan spiritual yang berdampak pada pola kehidupan mereka yang cenderung kaku, kasar, kurang peka sosial dan jauh dari integritas moral, malah banyak para intelektual yang bejat dan tidak bermoral. Di sisi lain, para ilmuwan muslim (ahli agama) juga mengalami kebuntuan ketika dihadapkan para realitas sosial yang terjadi ketika menuntut adanya penguasaan yang tinggi tehadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan kecakapan hidup (life skill).
Inilah problem keilmuan yang sedang terjadi dan masih berkembang dalam praktek pemikiran dan kehidupan saat ini. Untuk itu, diperlukan adanya upaya-upaya penyadaran untuk segera mengembalikan akar keilmuaan pada jalan dan substansi yang sebenarnya. Kalau tidak, maka pola keilmuan dikotomik di atas akan terus berjalan dan sulit menemukan solusi alternatif dalam upaya pengembangan keilmuan di masa depan.
Setidaknya ada beberapa tawaran kongkrit dalam upaya pengembangan keilmuan Islam di masa depan. Pertama, diperlukan adanya penyadaran pemahaman bahwa semua ilmu (baik ilmu-ilmu sekuler maupun ilmu-ilmu agama) itu berasal, berakar dan bersumber dari Allah Swt. yang dimanifestasikan dalam Islam, sehingga tidak akan tampak kembali bahwa ilmu-ilmu Islam itu hanyalah berkisar pada ilmu-ilmu agama an sich, sementara ilmu-ilmu sekuler adalah ilmu-ilmu modern seperti Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Teknologi Informasi dan sejenisnya). Untuk itu, istilah ilmu Fardhu ’Ain (ilmu-ilmu agama) yang meliputi; (al-Qur’an, syari’at, sunnah (hadits), figh, teologi (ilmu kalam), metafisika Islam, bahasa Arab dan semacamnya) dan istilah ilmu-ilmu Fardhu Kifayah, meliputi: (ilmu alam, ilmu terapan, teknologi, kebudayaan Barat, filsafat, linguistik dan semacamnya) yang biasa digunakan dalam praktek pendidikan dan pengembangan kurikulum pendidikan harus segera dihilangkan.
Harus segera ditekankan penyadaran bahwa semua ilmu itu adalah ilmu Islam dan bersumber dari Tuhan. Inilah Etika Tauhidik -meminjam istilahnya Prof. Amin Abdullah- sebagai epistemologi-fundamental pengembangan ilmu-ilmu Islam di masa depan.  Sebab, dengan Etika Tauhidik maka alam jagad raya yang banyak menyimpan misteri harus digali dan dikuasai agar bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan. Menguasai alam berari menguasai hukum alam dan segala dinamika yang ditimbulkannya. Maka dengan sendirinya manusia akan menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan yang dikembangkan berdasarkan hukum alam dengan peran manusia sebagai Khalifah Fil-Ardh (wakil Allah di muka bumi).
Kedua, seiring dengan masih melekatnya dikotomi keilmuan, maka diupayakan adanya suatu gerakan-gerakan konsep (pemikiran) dan praktek dalam bentuk integrasi epistemologi dan ontologi keilmuan, yang di dalamnya ada upaya untuk menyatukan berbagai macam keilmuan seperti yang telah dicontohkan para ilmuwan muslim pada masa-masa kejayaan Islam, seperti al-Khawarizmi, Umar al-Khayam, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan semacamnya. Tidak seperti tokoh-tokoh agama atau ulama’ (ilmuwan muslim) sekarang yang terlalu mengembangkan keilmuan Islam yang spesifik-parsialistik, dengan hanya menjadi ahli Hadits, ahli Fiqh, dan sebagainya tanpa ada upaya-upaya pemikiran ulang terhadap keahliannya.
Dengan seperti itu, ilmu-ilmu Islam akan mendapatkan peluang untuk berkembang dan berjaya lagi di masa-masa yang akan datang. Disamping ada upaya juga untuk melakukan pola integrasi aksiologi keilmuan. Untuk itu, manusia (baca: umat Islam) yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-tanda-Nya berupa alam jagad raya menggunakan perangkat berupa ilmu fisik; seperti ilmu Fisika, Kimia, Geografi, Geologi, dan Astronomi.
Sedangkan yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-tanda-Nya berupa manusia, akan memunculkan berbagai ilmu juga. Dari sisi fisik melahirkan ilmu Biologi dan Kedokteran, dari aspek psikis manusia memunculkan ilmu Psikololgi, dan apabila dikaji secara kelompok, maka akan melahirkan Sosiologi, Antropologi, Ekologi, Hukum, Sejarah dan semacamnya. Sementara yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-tanda-Nya berupa wahyu, muncul Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Tafsir, Fiqih, Ilmu Kalam dan semacamnya. Begitulah seterusnya hingga Islam akan menemukan kembali ’tempat asalnya’ yang telah lama ditinggal oleh umat Islamnya sendiri.
Di sisi lain, dengan semakin banyaknya tantangan di era globalisasi dan industrialisasi yang menuntut respons cepat dan tepat dari sistem pendidikan, maka sebagai langkah ketiga, umat Islam dituntut tidak hanya sekedar survive di tengah-tengah persaingan global, tetapi harus tampil dengan orientasi pemikiran yang konstruktif dan transformatif dalam kerangka mengembangkan sistem pendidikan (terutama sistem Pendidikan Tinggi) dengan tidak hanya menyuguhkan fakultas-fakulatas agama, tetapi harus siap dan mampu menyediakan fakultas-fakultas umum dengan corak epistemologi keilmuan yang mampu mengkombinasikan antara nilai- normatif keagamaan yang terintegralisasikan dalam format integreted curriculum (harmonisasi antara keilmuan Islam dengan keilmuan sekuler) dalam sistem pembelajaran yang akademik dan terarah.
Pentingnya Evaluasi Kritis
Pola pengembangan keilmuan yang integralistik tersebut tentu harus dilandasi moralitas keagamaan yang humanistik dan progresifistik, sehingga bisa masuk dan menyentuh pada semua disiplin keilmuan secara luas, seperti matematika, fisika teknologi dan sejenisnya. Hal ini penting dalam rangka memberikan landasan moral Islam terhadap pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan. Semua ilmu pengetahuan tidak boleh dipandang secara terpisah karena memiliki basis ontologi yang sama.
Hanya saja yang perlu dikaji ulang adalah luasnya cakupan dan wilayah ilmu-ilmu Islam itu sendiri yang sebagian di antaranya sudah tidak relevan lagi dikembangkan pada masa kini. Karena itu, diperlukan evaluasi yang kritis-konstruktif terhadap bagian-bagian dari ilmu-ilmu keislaman yang layak dan masih relevan dikembangkan, dan bagian mana yang sudah seharusnya dimonumenkan menjadi sejarah keilmuan.

Langkah penyatuan paradigma keilmuan di atas merupakan tugas kita semua, khususnya dalam penyelenggaran pendidikan dan praktek pengembangan keilmuan Islam. Untuk itu, diperlukan tindakan korektif-evaluatif terhadap pengembangan keilmuan dan praktek pendidikan yang selama ini berjalan. Tentu saja perubahan dan pengembangan ini membutuhkan konsep yang matang dan format integrasi keilmuan yang detail dan terarah agar tidak sekedar menjadi konsep tanpa aplikasi yang jelas.
Jika langkah-langkah di atas terlaksana dengan baik, maka ilmu pengetahuan Islam akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari dan dikaji oleh siapapun. Pada gilirannya, dualisme dikotomik pendidikan yang tampaknya sulit dihilangkan tersebut akan mudah diluruskan karena pada hakekatnya memang tidak sesuai dengan hakikat keilmuan Islam. Semoga!.

   --(@)--

*Penulis Berdomisili di: Desa Dasok Pademawu Pamekasan 69381. Aktif sebagai Peneliti masalah-masalah Pendidikan dan Dosen di INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM Oleh Fathor Rachman Corporate culture (budaya kerja korpora...