Selasa, 12 Agustus 2014

MEWUJUDKAN “KAMPUS PENULIS” DAN “PERGURUAN TINGGI BERBASIS RISET” (Percikan Pemikiran untuk Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Kampus INSTIKA)

Oleh : Fathor Rachman, S.Pd.I, M.Pd.
(Dosen Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep)



Pendahuluan
Ketatnya persaingan antar Perguruan Tinggi (PT) agar mendapatkan pengakuan sebagai perguruan tinggi unggulan, telah menuntut banyak PT di berbagai belahan nusantara ini melakukan perubahan, pembenahan, dan orientasi pengelolaanya pada segala aspek. Tuntutan perubahan itu didasarkan atas kesadaran akan adanya “kesenjangan” antara harapan stake-holders terhadap kompetensi lulusan PT yang telah dihasilkan selama ini. Eksistensi PT yang seharusnya bisa menjawab berbagai problematika kehidupan masyarakat, justru menjadi lembaga pencetak “pengangguran baru” yang cukup massif. Sebab, setiap kali PT meluluskan para sarjana (S1) dengan berbagai macam jurusan/program studi, bahkan magister (S2) dengan berbagai konsentrasi keilmuan, ternyata lulusannya tidak mampu menunjukkan kualitas dirinya menjadi pribadi yang mandiri, kompeten dan professional yang dapat bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial.
Problematika ini, sebenarnya telah lama dirasakan bukan hanya oleh masyarakat, tetapi oleh PT sendiri yang belum mampu memberikan pendidikan akademik yang memuaskan para pelanggan (mahasiswa dan masyarakat). Kondisi ini terjadi disebabkan mulai melemahnya motivasi sumber daya manusia di PT, baik dosen dan mahasiswa, dalam mengembangkan budaya akademik, terutama dalam memproduksi gagasan dan ide cemerlang yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah, baik yang berbentuk artikel, penelitian ataupun buku. Di sisi lain, lemahnya manajemen kelembagaan yang ada di PT untuk menfasilitasi para dosen dan mahasiswa pada kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah. Termasuk kebijakan-kebijakan beberapa PT yang kurang memberikan ruang yang cukup lebar bagi peningkatan kualitas dan potensi mahasiswa dengan dibudayakan menulis dan meneliti, yang berakibat pada lemahnya kompetensi dosen dan mutu para lulusannya.
Untuk itu diperlukan inovasi cerdas bukan sekedar improvement, agar keberadaan PT mendapatkan tempat yang layak pada seluruh stake-holders, melalui keberanian untuk membangun nilai-nilai, ide, budaya dan falsafah baru dalam kehidupan akademik PT, yang dikelola dengan efisien dan efektif, sehingga mampu menjamin kualitas lulusannya dan mampu mewujudkan keunggulan bersaing. Sebab, hanya institusi yang berani memperhatikan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) yang akan mampu bertahan di masa depan. Kaedah ini mutlak diikuti agar eksistensi PT tidak akan menjadi bagian dari beban kehidupan bagi masyarakat karena biaya masuk PT lumayan mahal, tetapi mutu lulusannya belum terjamin.
Idealnya, eksistensi PT harus bisa menjadi “tempat yang menyenangkan” bagi dosen dan mahasiswa (yang dikenal sebagai masyarakat ilmiah) untuk mengekspresikan segala ide, gagasan dan pemikiran ilmiahnya dalam berbagai bentuk tulisan yang bisa dikonsumsi oleh berbagai elemen masyarakat tanpa harus dihantui perasaan “takut” untuk berkarya. Bahkan sudah saatnya PT menjadi “gudangnya penulis” untuk membuktikan terhadap mahasiswa, masyarakat, dan lingkungan sekitar, bahwa teori yang dipelajari dan dikembangkan selama ini merupakan wujud dari upaya memikirkan kehidupan masyarakat. Namun demikian, kepedulian dan penghargaan PT terhadap berbagai karya ilmiah yang dihasilkan para dosen dan mahasiswa menjadi suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Sebab, hanya dengan mengembangkan budaya seperti itulah institusi PT di masa depan akan terus dihargai keberadaanya.
Hal itu bisa dicapai dengan baik jika ada sistem, kultur (budaya) dan struktur organisasi dengan kepemimpinan kuat juga ikut mendukung. Termasuk dalam hal ini adalah orientasi pengelolaan (manajemen) PT yang lebih menekankan pada kebutuhan seluruh elemen PT, terutama para dosen dan mahasiswa sebagai costumer. Oleh karena itu, salah satu pendekatan strategis yang harus dikembangkan oleh PT, termasuk Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), adalah mengembangkan total quality management (TQM) dalam kehidupan akademik yang professional. Sebab, dalam dunia pendidikan (lebih-lebih PT), TQM merupakan pendekatan strategis yang sangat menekankan pada kepuasan pelanggan (mahasiswa). Menurut Edward Sallis (2002: 25) TQM is a practical but strategic approach to running an organization that focuses on the needs of its customers and clients….TQM represents a permanent shift in an institution’s focus away from short-term expediency to the long-term quality improvement.
Oleh karena itu, salah satu upaya meningkatkan mutu dan daya saing, INSTIKA di masa depan harus bertekad untuk mewujudkan diri sebagai “kampus penulis” dan “PT Riset (research university)”, yang akan menjadi gudangnya para penulis dan pusatnya para peneliti yang handal, sehingga akan tetap survive di tengah ketatnya persaingan antar perguruan tinggi untuk merebut sebagai world class university atau minimal menjadi kampus berkelas di tingkat nasional. Persoalannya, apa saja langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh PT seperti INSTIKA? Berikut beberapa percikan pemikiran yang bisa dilakukan dan dikembangkan bersama-sama:

Mewujudkan “Kampus Penulis” dan “PT Berbasis Riset (Research University)”
1.      Nilai dan Ide yang Harus Dikembangkan
Sejak tahun akademik 2013-2014 hingga 10 tahun ke depan (2022-2023), INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep harus bertekad untuk mewujudkan diri sebagai: a) Kampus Penulis: ide ini ditargetkan bisa tercapai selama kurun waktu 5 tahun (dari tahun akademik 2013-2014 s.d. 2017-2018). Melalui nilai dan ide ini diharapkan eksistensi INSTIKA sebagai gudangnya para penulis handal, sehingga para dosen dan mahasiswa tidak hanya berdebat dan berwacana di ruang-ruang kelas saat pembelajaran berlangsung, tetapi wajib membiasakan diri untuk berdiskusi dan melakukan debat akademik dengan menuangkan produktivitas ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan ilmiah, baik dituangkan dalam harian umum, koran, majalah, jurnal, lebih-lebih bisa dituangkan dalam bentuk buku. Oleh karena itu, menulis harus menjadi kegiatan akademik harian yang wajib dibudayakan kepada para mahasiswa dan dosen. “Tiada hari tanpa menulis” adalah jargon yang wajib dijadikan “falsafah akademik”; b) PT Riset (research university): ide ini harus tercapai selama kurang lebih 10 tahun (dari tahun akademik 2013-2014 hingga tahun akademik 2022-2023). Melalui nilai dan ide ini diharapkan INSTIKA akan menjadi pusatnya para peneliti yang handal, yang mampu membangun budaya akademik, program pembelajaran, dan orientasi pengelolaan PT berbasis pada hasil penelitian, bukan hanya PT yang sekedar “memenuhi persyaratan formal pendirian” suatu PT. Melalui ide ini, keberadaan INSTIKA diharapkan akan menjadi PT yang bisa melahirkan produk penelitian yang bisa menjawab berbagai problematika kehidupan masyarakat.

2.      Internalisasai Nilai-nilai/Ide untuk Mewujudkan “Kampus Penulis” dan “PT Berbasis Riset” di INSTIKA
Untuk mengimplementasikan nilai dan ide di atas, maka ada beberapa program dan upaya yang harus dilakukan oleh para pengelola PT ini, mulai dari Rektor, Dekan, Kajur, Sekjur hingga organisasi kemahasiswaan seperti DPM, BEM dan LPM, di antaranya adalah: a) Dalam setiap ruangan kampus, baik di ruangan rektorat, dekanat, hingga ruangan tenaga teknis dan kantor organisasi kemahasiswaan harus ada jargon yang berisi tulisan “tiada hari tanpa menulis dan meneliti” dan “menulis adalah ibadah”; b) Dalam setiap forum, baik dalam forum seminar, lokakarya, rapat, maupun dalam pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya, tidak henti-hentinya Rektor, Dekan, para Kajur mengkampanyekan diri bahwa INSTIKA harus menjadi “kampus penulis” dan “PT riset”, termasuk dalam acara besar seperti wisuda sarjana, seminar-seminar nasional dan internasional; c) Dalam setiap acara Orientasi Pendidikan Kampus (Ordik) dan Setiap awal semester para dosen dan mahasiswa wajib diberi pelatihan metodologi penelitian dan Karya Tulis Ilmiah dengan mendatangkan para ahli dari berbagai tempat, untuk menumbuhkan “jiwa menulis” pada dosen dan mahasiswa; d) Setiap tiga bulan sekali harus ada program “karantina kepenulisan” bagi para mahasiswa. Di mana, setiap angkatan dibuat kelompok (club) dan wajib menerbitkan bulletin sebagai wadah berlatih untuk menuangkan ide dan gagasannya, untuk kemudian dikembangkan menjadi tulisan-tulisan yang bisa dimuat di koran, majalah, maupun jurnal ilmiah; e) Setiap fakultas wajib menerbitkan Jurnal Ilmiah sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing, yang harus terbit secara berkesinambungan; f) Setiap organisasi kemahasiswaan, baik BEM, DPM, LPM, maupun UKM wajib menerbitkan bulletin atau majalah yang juga harus terbit secara berkesinambungan; g) Setiap semester harus ada, minimal tiga penelitian yang wajib dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa, baik penelitian yang sifatnya kolektif maupun individual; h) Setiap tahun wajib ada dosen maupun mahasiswa yang harus ikut penelitian kompetitif, baik penelitian kompetitif itu dilaksanakan oleh Kemendikbud RI, Kemenag RI ataupun PTN/PTS di luar INSTIKA; i) Setiap hari wajib ada tulisan dosen ataupun mahasiswa yang harus dimuat di Koran, baik Koran lokal maupun Koran nasional; j) Setiap dosen yang melakukan proses pembelajaran wajib membuat modul atau diktat mata kuliah dan harus dicetak menjadi buku atau dipublikasikan agar bisa dijadikan kekayaan intelektual dosen yang bersangkutan dan menjadi khazanah keilmuan di perpustakaan PT.

3.      Movement: Constant Renewal
INSTIKA juga harus melakukan beberapa gerakan-gerakan pembaharuan yang sifatnya berkesinambungan, yaitu: a) Pengembangan kebebasan akademik; Prinsip kebebasan dalam melakukan penelitian dan membuat tulisan merupakan hal yang sangat esensial bagi sebuah universitas riset. Kebebasan ini memungkinkan terjadinya perdebatan isu-isu keilmuan secara objektif. Hasil-hasil penelitian dan karya tulis harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; b) Rekrutmen dan evaluasi staf pengajar harus memprioritaskan orang (SDM) yang memiliki produktivitas menulis; dalam universitas riset, pengajar (dosen) memiliki dua fungsi utama: sebagai pendidik sekaligus sebagai peneliti. Kinerja dalam melakukan kedua fungsi ini harus menjadi kriteria utama dalam merekrut sekaligus mengevaluasi para pengajar (dosen). Di INSTIKA, sistem perekrutan staf pengajar wajib dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tidak hanya berkomitmen terhadap pengajaran materi, namun juga harus dipilih para dosen yang produktif menulis dengan dibuktikan karya-karya ilmiah yang telah dihasilkan dan berkomitmen untuk aktif melakukan penelitian; c) Dukungan finansial dari kampus INSTIKA; tersedianya dana yang memadai merupakan hal yang sangat krusial demi kelangsungan sebuah universitas riset. Lebih khusus adalah penyelenggaraan sistem perguruan tinggi yang terjangkau oleh banyak kalangan. Untuk menjalankan ide di atas, sumbangan dari mahasiswa ditekan serendah mungkin. Konsekuensinya, PR II, BAU dan para pengelola INSTIKA dituntut untuk selalu berusaha keras mencari dana dan menyediakan dana untuk penelitian para dosen dan mahasiswa; d) Pemberian penghargaan dan beasiswa bagi dosen dan mahasiswa; untuk menunjang semangat menulis dan meneliti, maka INSTIKA harus selalu memberikan penghargaan khusus bagi dosen dan mahasiswa yang produktif meneliti maupun menulis buku, termasuk juga mereka yang aktif menulis di koran, majalah ataupun di Jurnal. Termasuk memberikan beasiswa bagi dosen untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya. Termasuk juga memberikan beasiswa dengan membebaskan keuangan kuliah bagi mahasiswa yang sangat produktif menulis dan melakukan penelitian; e) Riset menjadi kegiatan yang paling dominan di samping kegiatan pendidikan (pembelajaran) dan pengabdian pada masyarakat. Seluruh kegiatan pendidikan-pengajaran dan pengabdian pada masyarakat diselenggarakan dan dikembangkan dilandasi oleh riset yang sangat kuat, agar dapat menyentuh kebutuhan kehidupan masyarakat. Sebab inilah hakikat “university”. Uni berarti kesatuan, versity berarti keragaman. Keragaman ilmu pengetahuan yang terintegral dalam satu kesatuan yang sifatnya universal.

4.      Kepemimpinan dan Alat/Fasilitas yang Disediakan
Selain melalui upaya dan program yang telah dikemukakan pada point internalisasi nilai dan ide untuk mewujudkan diri sebagai kampus penulis dan peneliti, INSTIKA juga mengembangkan kepemimpinan transformative-collegial, di mana dalam setiap menentukan kebijakan, Rektor bersama pimpinan yang lain senantiasa melibatkan para staf, tenaga teknis, bahkan juga mahasiswa. Hal ini dimaksudkan agar supaya seluruh nilai-nilai, falsafah dan budaya kampus bisa menjadi komitmen bersama, karena merupakan keputusan dan kesepakatan kolektif seluruh elemen kampus. Oleh karena itu, sebagai upaya strategis lainnya, para pimpinan beserta seluruh elemen wajib memberi contoh dan motivasi untuk menulis. Rektor, Dekan, Kajur bersama para pimpinan lainnya wajib selalu mengkampanyekan ide besar ini dalam setiap kesempatan, bahkan kalau perlu Rektor dan Dekan harus memimpin sendiri ketika ada proyek-proyek penelitian, baik dari internal kampus INSTIKA sendiri, maupun dari eksternal kampus.
Selain itu, ada beberapa upaya strategis lainnya yang harus dikembangkan, yaitu: a) Pemberdayaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) INSTIKA. Melalui lembaga ini INSTIKA harus mengkampanyekan diri sebagai kampus penulis dan PT Riset. Lembaga ini yang selalu aktif mengadakan pelatihan metodologi penelitian, pelatihan menulis buku, dan menulis artikel bagi para dosen dan mahasiswa yang bekerja sama dengan fakultas-fakultas di lingkungan INSTIKA ataupun dengan kampus-kampus lain di wilayah Madura dan Jawa Timur. Selain itu, melalui lembaga ini para mahasiswa selalu dikasih pelatihan menulis karya ilmiah agar bisa menulis dan menuangkan ide dan gagasannya di koran, majalah dan jurnal. Lembaga ini juga harus aktif menerbitkan jurnal, bulletin dan majalah sebagai wadah pengembangan kreativitas menulis para dosen dan mahasiswa; b) Pengembangan Perpustakaan Kampus sebagai jantung PT. Perpustakaan INSTIKA diharapkan menjadi pusat segala informasi sekaligus pusat utama menggali dan menganalisis data-data penelitian. Sebab, library is the heart of university. Oleh karena itu, segala fasilitas di perpustakaan seperti buku, majalah, jurnal, internet, dan lain-lainnya senantiasa dievaluasi untuk dikembangkan dan dicarikan kemungkinan-kemungkinan untuk meng-up date segala informasi terbaru yang terus berkembang. Perpustakaan ini juga wajib memiliki jaringan dengan penerbit-penerbit buku untuk mempublikasikan buku dan karya-karya dosen. Perpustakaan ini yang selalu dijadikan pusat kajian dan diskusi para mahasiswa dan dosen dalam setiap hari; c) Pemberdayaan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Lembaga ini harus selalu didorong oleh para pimpinan, khususnya oleh Pembantu Rektor III untuk selalu melahirkan para mahasiswa yang memiliki jiwa kepenulisan yang handal. Lembaga ini harus memiliki program “karantina kepenulisan” yang diformalkan kepada mahasiswa setiap 3 bulan sekali. Lembaga ini harus melahirkan para penulis hebat di kalangan mahasiswa, yang wajib berprestasi di tingkat regional dan nasional. Lembaga ini juga harus aktif menerbitkan jurnal, majalah dan bulletin yang terbit secara berkesinambungan dengan anggaran (dana) khusus dari kampus; d) Penyediaan dana dengan anggaran yang cukup besar dari kampus. Untuk mewujudkan gagasan besar di atas, INSTIKA wajib menganggarkan dana khusus bagi setiap penelitian yang akan dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, baik penelitian individual maupun untuk penelitian kolektif. Bahkan semua penerbitan bulletin, majalah dan jurnal di atas, pembiayaannya ditanggung kampus setiap kali terbit. Sehingga dosen dan mahasiswa tidak direpotkan untuk mencari biaya penerbitan, mereka cukup fokus menulis dengan mencari berbagai ide, gagasan, dan solusi bagi problematika kehidupan sosial; e) Pemberian dana insentif bagi dosen dan mahasiswa yang produktif menulis. Untuk memupuk semangat menulis dan produktivitas berkarya. Para dosen dan mahasiswa yang telah mempublikasikan tulisannya, baik di koran, majalah, maupun jurnal selalu diberi uang pembinaan (dana insentif). Bahkan setiap dosen yang mau mempublikasikan/mencetak karya tulisnya, baik berupa modul kuliah, diktat, maupun buku melalui penerbit, juga dibantu biaya penerbitannya, mulai dari sepertiga, separuh hingga total biaya penerbitan; dan f) INSTIKA juga harus mencanangkan memiliki “lembaga penerbitan” sendiri, yang akan dijadikan fasilitas untuk mencetak segala penerbitan di lingkungan kampus, baik berupa bulletin, majalah, dan jurnal. Termasuk akan mencetak segala modul, diktat, dan buku yang ditulis oleh para dosen, tentu saja dengan tanpa dipungut biaya penerbitan sepeser pun.

Penutup
Semua ide di atas harus memiliki target waktu yang pasti dan terukur. Sebab, potensi kampus INSTIKA ke arah tersebut sangat memungkinkan dengan telah banyaknya buku-buku yang ditulis oleh para dosen dan sebagian mahasiswa INSTIKA. Bahkan telah ada beberapa dosen dan sebagian mahasiswa yang tulisan opininya (baik artikel, kolom dan essai) yang muncul di Harian Umum (surat kabar/koran) yang berskala lokal maupun nasional, seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Seputar Indonesia, Koran TEMPO, Media Indonesia, Bernas Jogja, Radar Madura, Koran Bisnis, Bali Post, dan lain-lain. Tidak hanya itu, sebagian dosen telah ada beberapa yang aktif mengikuti  “penelitian kompetitif” yang diselenggarakan oleh Dirjen Diktis Kemenag RI.
Pada tingkat mahasiswa, tidak terhitung jumlah prestasi mahasiswa di bidang tulis menulis, baik dalam kompetisi tingkat lokal, regional maupun nasional. Bahkan berkali-kali masuk finalis dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional yang bersaing dengan kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UII, UNIBRAW, UIN Jakarta, dan lain-lain. Yang paling menarik, ternyata banyak alumni INSTIKA yang menjadi Wartawan, Reporter atau Jurnalis di berbagai macam Koran dan stasiun Radio dan Televisi, yang tentunya tidak jauh-jauh dari dunia kepenulisan dan penelitian, meskipun dengan latar belakang keilmuan hanya di bidang Tarbiyah, Syari’ah dan Ushuluddin.
Potensi ini tentu menjadi modal penting dan berharga bagi PT INSTIKA untuk mengawali diri sebagai kampus penulis dan PT Riset sebelum dikembangkan dan diwujudkan oleh kampus-kampus lain di luar INSTIKA. Bukankah beberapa capaian yang telah diperoleh selama ini menjadi indikasi luar biasa yang harus membuat INSTIKA selalu omptimistis bahwa ide besar ini akan berwujud nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM Oleh Fathor Rachman Corporate culture (budaya kerja korpora...