Oleh : Fathor Rachman, S.Pd.I, M.Pd.
(Dosen Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep)
Pendahuluan
Ketatnya persaingan antar Perguruan
Tinggi (PT) agar mendapatkan pengakuan sebagai perguruan tinggi unggulan, telah
menuntut banyak PT di berbagai belahan nusantara ini melakukan perubahan,
pembenahan, dan orientasi pengelolaanya pada segala aspek. Tuntutan perubahan
itu didasarkan atas kesadaran akan adanya “kesenjangan” antara harapan stake-holders
terhadap kompetensi lulusan PT yang telah dihasilkan selama ini. Eksistensi PT
yang seharusnya bisa menjawab berbagai problematika kehidupan masyarakat,
justru menjadi lembaga pencetak “pengangguran baru” yang cukup massif. Sebab,
setiap kali PT meluluskan para sarjana (S1) dengan berbagai macam
jurusan/program studi, bahkan magister (S2) dengan berbagai konsentrasi
keilmuan, ternyata lulusannya tidak mampu menunjukkan kualitas dirinya menjadi
pribadi yang mandiri, kompeten dan professional yang dapat bertanggung jawab
terhadap kehidupan sosial.
Problematika ini, sebenarnya telah lama
dirasakan bukan hanya oleh masyarakat, tetapi oleh PT sendiri yang belum mampu
memberikan pendidikan akademik yang memuaskan para pelanggan (mahasiswa dan
masyarakat). Kondisi ini terjadi disebabkan mulai melemahnya motivasi sumber daya manusia di PT,
baik dosen dan mahasiswa, dalam mengembangkan budaya akademik, terutama dalam memproduksi
gagasan dan ide cemerlang yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah, baik
yang berbentuk artikel, penelitian ataupun buku. Di sisi lain, lemahnya
manajemen kelembagaan yang ada di PT untuk menfasilitasi para dosen dan mahasiswa
pada kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah. Termasuk kebijakan-kebijakan beberapa
PT yang kurang memberikan ruang yang cukup lebar bagi peningkatan kualitas dan
potensi mahasiswa dengan dibudayakan menulis dan meneliti, yang berakibat pada
lemahnya kompetensi dosen dan mutu para lulusannya.
Untuk itu
diperlukan inovasi cerdas bukan sekedar improvement, agar keberadaan PT mendapatkan
tempat yang layak pada seluruh stake-holders, melalui keberanian untuk
membangun nilai-nilai, ide, budaya dan falsafah baru dalam kehidupan akademik
PT, yang dikelola dengan efisien dan efektif, sehingga mampu menjamin kualitas
lulusannya dan mampu mewujudkan keunggulan bersaing. Sebab, hanya institusi
yang berani memperhatikan kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
yang akan mampu bertahan di masa depan. Kaedah ini mutlak diikuti agar eksistensi
PT tidak akan menjadi bagian dari beban kehidupan bagi masyarakat karena biaya
masuk PT lumayan mahal, tetapi mutu lulusannya belum terjamin.
Idealnya,
eksistensi PT harus bisa menjadi “tempat yang menyenangkan” bagi dosen dan
mahasiswa (yang dikenal sebagai masyarakat ilmiah) untuk mengekspresikan segala
ide, gagasan dan pemikiran ilmiahnya dalam berbagai bentuk tulisan yang bisa
dikonsumsi oleh berbagai elemen masyarakat tanpa harus dihantui perasaan
“takut” untuk berkarya. Bahkan sudah saatnya PT menjadi “gudangnya penulis”
untuk membuktikan terhadap mahasiswa, masyarakat, dan lingkungan sekitar, bahwa
teori yang dipelajari dan dikembangkan selama ini merupakan wujud dari upaya
memikirkan kehidupan masyarakat. Namun demikian, kepedulian dan penghargaan PT
terhadap berbagai karya ilmiah yang dihasilkan para dosen dan mahasiswa menjadi
suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Sebab, hanya dengan mengembangkan
budaya seperti itulah institusi PT di masa depan akan terus dihargai
keberadaanya.
Hal itu
bisa dicapai dengan baik jika ada sistem, kultur (budaya) dan struktur
organisasi dengan kepemimpinan kuat juga ikut mendukung. Termasuk dalam hal ini
adalah orientasi pengelolaan (manajemen) PT yang lebih menekankan pada kebutuhan
seluruh elemen PT, terutama para dosen dan mahasiswa sebagai costumer. Oleh
karena itu, salah satu pendekatan strategis yang harus dikembangkan oleh PT,
termasuk Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), adalah mengembangkan total
quality management (TQM) dalam kehidupan akademik yang professional. Sebab,
dalam dunia pendidikan (lebih-lebih PT), TQM merupakan pendekatan strategis
yang sangat menekankan pada kepuasan pelanggan (mahasiswa). Menurut Edward
Sallis (2002: 25) TQM is a practical but strategic approach to running an
organization that focuses on the needs of its customers and clients….TQM
represents a permanent shift in an institution’s focus away from short-term
expediency to the long-term quality improvement.
Oleh karena
itu, salah satu upaya meningkatkan mutu dan daya saing, INSTIKA di masa depan
harus bertekad untuk mewujudkan diri sebagai “kampus penulis” dan “PT Riset (research
university)”, yang akan menjadi gudangnya para penulis dan pusatnya para peneliti
yang handal, sehingga akan tetap survive di tengah ketatnya persaingan
antar perguruan tinggi untuk merebut sebagai world class university atau
minimal menjadi kampus berkelas di tingkat nasional. Persoalannya, apa saja
langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh PT seperti INSTIKA? Berikut
beberapa percikan pemikiran yang bisa dilakukan dan dikembangkan bersama-sama:
Mewujudkan “Kampus
Penulis” dan “PT Berbasis Riset (Research University)”
1.
Nilai dan Ide yang Harus Dikembangkan
Sejak tahun akademik 2013-2014 hingga 10 tahun ke depan
(2022-2023), INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep harus bertekad
untuk mewujudkan diri sebagai: a) Kampus Penulis: ide ini ditargetkan bisa tercapai
selama kurun waktu 5 tahun (dari tahun akademik 2013-2014 s.d. 2017-2018). Melalui
nilai dan ide ini diharapkan eksistensi INSTIKA sebagai gudangnya para penulis
handal, sehingga para dosen dan mahasiswa tidak hanya berdebat dan berwacana di
ruang-ruang kelas saat pembelajaran berlangsung, tetapi wajib membiasakan diri
untuk berdiskusi dan melakukan debat akademik dengan menuangkan produktivitas ide
dan gagasannya dalam bentuk tulisan ilmiah, baik dituangkan dalam harian umum,
koran, majalah, jurnal, lebih-lebih bisa dituangkan dalam bentuk buku. Oleh
karena itu, menulis harus menjadi kegiatan akademik harian yang wajib
dibudayakan kepada para mahasiswa dan dosen. “Tiada hari tanpa menulis”
adalah jargon yang wajib dijadikan “falsafah akademik”; b) PT Riset (research university): ide ini harus tercapai selama kurang
lebih 10 tahun (dari tahun akademik 2013-2014 hingga tahun akademik 2022-2023).
Melalui nilai dan ide ini diharapkan INSTIKA akan menjadi pusatnya para
peneliti yang handal, yang mampu membangun budaya akademik, program
pembelajaran, dan orientasi pengelolaan PT berbasis pada hasil penelitian,
bukan hanya PT yang sekedar “memenuhi persyaratan formal pendirian” suatu PT.
Melalui ide ini, keberadaan INSTIKA diharapkan akan menjadi PT yang bisa
melahirkan produk penelitian yang bisa menjawab berbagai problematika kehidupan
masyarakat.
2.
Internalisasai Nilai-nilai/Ide untuk Mewujudkan “Kampus Penulis”
dan “PT Berbasis Riset” di INSTIKA
Untuk mengimplementasikan nilai dan ide di atas, maka ada
beberapa program dan upaya yang harus dilakukan oleh para pengelola PT ini,
mulai dari Rektor, Dekan, Kajur, Sekjur hingga organisasi kemahasiswaan seperti
DPM, BEM dan LPM, di antaranya adalah: a) Dalam setiap ruangan kampus, baik di
ruangan rektorat, dekanat, hingga ruangan tenaga teknis dan kantor organisasi
kemahasiswaan harus ada jargon yang berisi tulisan “tiada hari tanpa
menulis dan meneliti” dan “menulis adalah ibadah”; b) Dalam setiap
forum, baik dalam forum seminar, lokakarya, rapat, maupun dalam
pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya, tidak henti-hentinya Rektor, Dekan, para
Kajur mengkampanyekan diri bahwa INSTIKA harus menjadi “kampus penulis” dan “PT
riset”, termasuk dalam acara besar seperti wisuda sarjana, seminar-seminar
nasional dan internasional; c) Dalam setiap acara Orientasi Pendidikan Kampus
(Ordik) dan Setiap awal semester para dosen dan mahasiswa wajib diberi pelatihan
metodologi penelitian dan Karya Tulis Ilmiah dengan mendatangkan para ahli
dari berbagai tempat, untuk menumbuhkan “jiwa menulis” pada dosen dan mahasiswa;
d) Setiap tiga bulan sekali harus ada program “karantina kepenulisan” bagi para
mahasiswa. Di mana, setiap angkatan dibuat kelompok (club) dan wajib
menerbitkan bulletin sebagai wadah berlatih untuk menuangkan ide dan
gagasannya, untuk kemudian dikembangkan menjadi tulisan-tulisan yang bisa
dimuat di koran, majalah, maupun jurnal ilmiah; e) Setiap fakultas wajib
menerbitkan Jurnal Ilmiah sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing, yang
harus terbit secara berkesinambungan; f) Setiap organisasi kemahasiswaan, baik
BEM, DPM, LPM, maupun UKM wajib menerbitkan bulletin atau majalah yang
juga harus terbit secara berkesinambungan; g) Setiap semester harus ada,
minimal tiga penelitian yang wajib dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa, baik
penelitian yang sifatnya kolektif maupun individual; h) Setiap tahun wajib ada
dosen maupun mahasiswa yang harus ikut penelitian kompetitif, baik penelitian
kompetitif itu dilaksanakan oleh Kemendikbud RI, Kemenag RI ataupun PTN/PTS di
luar INSTIKA; i) Setiap hari wajib ada tulisan dosen ataupun mahasiswa yang
harus dimuat di Koran, baik Koran lokal maupun Koran nasional; j) Setiap dosen yang
melakukan proses pembelajaran wajib membuat modul atau diktat mata kuliah dan
harus dicetak menjadi buku atau dipublikasikan agar bisa dijadikan kekayaan
intelektual dosen yang bersangkutan dan menjadi khazanah keilmuan di
perpustakaan PT.
3.
Movement: Constant Renewal
INSTIKA
juga harus melakukan beberapa gerakan-gerakan pembaharuan yang sifatnya
berkesinambungan, yaitu: a) Pengembangan kebebasan akademik; Prinsip
kebebasan dalam melakukan penelitian dan membuat tulisan merupakan hal yang
sangat esensial bagi sebuah universitas riset. Kebebasan ini memungkinkan
terjadinya perdebatan isu-isu keilmuan secara objektif. Hasil-hasil penelitian dan
karya tulis harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; b) Rekrutmen dan
evaluasi staf pengajar harus memprioritaskan orang (SDM) yang memiliki
produktivitas menulis; dalam universitas riset, pengajar (dosen) memiliki
dua fungsi utama: sebagai pendidik sekaligus sebagai peneliti. Kinerja dalam
melakukan kedua fungsi ini harus menjadi kriteria utama dalam merekrut
sekaligus mengevaluasi para pengajar (dosen). Di INSTIKA, sistem perekrutan
staf pengajar wajib dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tidak hanya
berkomitmen terhadap pengajaran materi, namun juga harus dipilih para dosen
yang produktif menulis dengan dibuktikan karya-karya ilmiah yang telah
dihasilkan dan berkomitmen untuk aktif melakukan penelitian; c) Dukungan
finansial dari kampus INSTIKA; tersedianya dana yang memadai merupakan hal
yang sangat krusial demi kelangsungan sebuah universitas riset. Lebih
khusus adalah penyelenggaraan sistem perguruan tinggi yang terjangkau oleh
banyak kalangan. Untuk menjalankan ide di atas, sumbangan dari mahasiswa
ditekan serendah mungkin. Konsekuensinya, PR II, BAU dan para pengelola INSTIKA
dituntut untuk selalu berusaha keras mencari dana dan menyediakan dana untuk
penelitian para dosen dan mahasiswa; d) Pemberian penghargaan dan beasiswa
bagi dosen dan mahasiswa; untuk menunjang semangat menulis dan meneliti,
maka INSTIKA harus selalu memberikan penghargaan khusus bagi dosen dan
mahasiswa yang produktif meneliti maupun menulis buku, termasuk juga mereka
yang aktif menulis di koran, majalah ataupun di Jurnal. Termasuk memberikan
beasiswa bagi dosen untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Termasuk juga memberikan beasiswa dengan membebaskan keuangan kuliah bagi
mahasiswa yang sangat produktif menulis dan melakukan penelitian; e) Riset
menjadi kegiatan yang paling dominan di samping kegiatan pendidikan (pembelajaran)
dan pengabdian pada masyarakat. Seluruh kegiatan pendidikan-pengajaran dan
pengabdian pada masyarakat diselenggarakan dan dikembangkan dilandasi oleh
riset yang sangat kuat, agar dapat menyentuh kebutuhan kehidupan masyarakat. Sebab
inilah hakikat “university”. Uni berarti kesatuan, versity
berarti keragaman. Keragaman ilmu pengetahuan yang terintegral dalam satu
kesatuan yang sifatnya universal.
4.
Kepemimpinan dan Alat/Fasilitas yang Disediakan
Selain melalui upaya dan program yang telah dikemukakan pada
point internalisasi nilai dan ide untuk mewujudkan diri sebagai kampus penulis
dan peneliti, INSTIKA juga mengembangkan kepemimpinan transformative-collegial,
di mana dalam setiap menentukan kebijakan, Rektor bersama pimpinan yang
lain senantiasa melibatkan para staf, tenaga teknis, bahkan juga mahasiswa. Hal
ini dimaksudkan agar supaya seluruh nilai-nilai, falsafah dan budaya kampus
bisa menjadi komitmen bersama, karena merupakan keputusan dan kesepakatan kolektif
seluruh elemen kampus. Oleh karena itu, sebagai upaya strategis lainnya, para
pimpinan beserta seluruh elemen wajib memberi contoh dan motivasi untuk
menulis. Rektor, Dekan, Kajur bersama para pimpinan lainnya wajib selalu mengkampanyekan
ide besar ini dalam setiap kesempatan, bahkan kalau perlu Rektor dan Dekan harus
memimpin sendiri ketika ada proyek-proyek penelitian, baik dari internal kampus
INSTIKA sendiri, maupun dari eksternal kampus.
Selain itu, ada beberapa upaya strategis lainnya yang harus dikembangkan,
yaitu: a) Pemberdayaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
(LP2M) INSTIKA. Melalui lembaga ini INSTIKA harus mengkampanyekan diri
sebagai kampus penulis dan PT Riset. Lembaga ini yang selalu aktif mengadakan
pelatihan metodologi penelitian, pelatihan menulis buku, dan menulis artikel
bagi para dosen dan mahasiswa yang bekerja sama dengan fakultas-fakultas di
lingkungan INSTIKA ataupun dengan kampus-kampus lain di wilayah Madura dan Jawa
Timur. Selain itu, melalui lembaga ini para mahasiswa selalu dikasih pelatihan
menulis karya ilmiah agar bisa menulis dan menuangkan ide dan gagasannya di
koran, majalah dan jurnal. Lembaga ini juga harus aktif menerbitkan jurnal, bulletin
dan majalah sebagai wadah pengembangan kreativitas menulis para dosen dan
mahasiswa; b) Pengembangan Perpustakaan Kampus sebagai jantung PT. Perpustakaan
INSTIKA diharapkan menjadi pusat segala informasi sekaligus pusat utama
menggali dan menganalisis data-data penelitian. Sebab, library is the heart
of university. Oleh karena itu, segala fasilitas di perpustakaan seperti
buku, majalah, jurnal, internet, dan lain-lainnya senantiasa dievaluasi untuk
dikembangkan dan dicarikan kemungkinan-kemungkinan untuk meng-up date
segala informasi terbaru yang terus berkembang. Perpustakaan ini juga wajib
memiliki jaringan dengan penerbit-penerbit buku untuk mempublikasikan buku dan
karya-karya dosen. Perpustakaan ini yang selalu dijadikan pusat kajian dan
diskusi para mahasiswa dan dosen dalam setiap hari; c) Pemberdayaan LPM
(Lembaga Pers Mahasiswa). Lembaga ini harus selalu didorong oleh para
pimpinan, khususnya oleh Pembantu Rektor III untuk selalu melahirkan para
mahasiswa yang memiliki jiwa kepenulisan yang handal. Lembaga ini harus
memiliki program “karantina kepenulisan” yang diformalkan kepada mahasiswa
setiap 3 bulan sekali. Lembaga ini harus melahirkan para penulis hebat di
kalangan mahasiswa, yang wajib berprestasi di tingkat regional dan nasional.
Lembaga ini juga harus aktif menerbitkan jurnal, majalah dan bulletin
yang terbit secara berkesinambungan dengan anggaran (dana) khusus dari kampus;
d) Penyediaan dana dengan anggaran yang cukup besar dari kampus. Untuk
mewujudkan gagasan besar di atas, INSTIKA wajib menganggarkan dana khusus bagi
setiap penelitian yang akan dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, baik penelitian
individual maupun untuk penelitian kolektif. Bahkan semua penerbitan bulletin,
majalah dan jurnal di atas, pembiayaannya ditanggung kampus setiap kali terbit.
Sehingga dosen dan mahasiswa tidak direpotkan untuk mencari biaya penerbitan, mereka
cukup fokus menulis dengan mencari berbagai ide, gagasan, dan solusi bagi
problematika kehidupan sosial; e) Pemberian dana insentif bagi dosen dan
mahasiswa yang produktif menulis. Untuk memupuk semangat menulis dan
produktivitas berkarya. Para dosen dan mahasiswa yang telah mempublikasikan
tulisannya, baik di koran, majalah, maupun jurnal selalu diberi uang pembinaan
(dana insentif). Bahkan setiap dosen yang mau mempublikasikan/mencetak karya tulisnya,
baik berupa modul kuliah, diktat, maupun buku melalui penerbit, juga dibantu
biaya penerbitannya, mulai dari sepertiga, separuh hingga total biaya
penerbitan; dan f) INSTIKA juga harus mencanangkan memiliki “lembaga
penerbitan” sendiri, yang akan dijadikan fasilitas untuk mencetak segala
penerbitan di lingkungan kampus, baik berupa bulletin, majalah, dan jurnal.
Termasuk akan mencetak segala modul, diktat, dan buku yang ditulis oleh para
dosen, tentu saja dengan tanpa dipungut biaya penerbitan sepeser pun.
Penutup
Semua
ide di atas harus memiliki target waktu yang pasti dan terukur. Sebab, potensi
kampus INSTIKA ke arah tersebut sangat memungkinkan dengan telah banyaknya
buku-buku yang ditulis oleh para dosen dan sebagian mahasiswa INSTIKA. Bahkan
telah ada beberapa dosen dan sebagian mahasiswa yang tulisan opininya (baik
artikel, kolom dan essai) yang muncul di Harian Umum (surat kabar/koran) yang
berskala lokal maupun nasional, seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Seputar
Indonesia, Koran TEMPO, Media Indonesia, Bernas Jogja, Radar Madura, Koran
Bisnis, Bali Post, dan lain-lain. Tidak hanya itu, sebagian dosen telah ada
beberapa yang aktif mengikuti “penelitian kompetitif” yang diselenggarakan
oleh Dirjen Diktis Kemenag RI.
Pada
tingkat mahasiswa, tidak terhitung jumlah prestasi mahasiswa di bidang tulis
menulis, baik dalam kompetisi tingkat lokal, regional maupun nasional. Bahkan
berkali-kali masuk finalis dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional yang
bersaing dengan kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UII, UNIBRAW, UIN
Jakarta, dan lain-lain. Yang paling menarik, ternyata banyak alumni INSTIKA
yang menjadi Wartawan, Reporter atau Jurnalis di berbagai macam Koran dan
stasiun Radio dan Televisi, yang tentunya tidak jauh-jauh dari dunia
kepenulisan dan penelitian, meskipun dengan latar belakang keilmuan hanya di
bidang Tarbiyah, Syari’ah dan Ushuluddin.
Potensi
ini tentu menjadi modal penting dan berharga bagi PT INSTIKA untuk mengawali
diri sebagai kampus penulis dan PT Riset sebelum dikembangkan dan diwujudkan oleh
kampus-kampus lain di luar INSTIKA. Bukankah beberapa capaian yang telah
diperoleh selama ini menjadi indikasi luar biasa yang harus membuat INSTIKA
selalu omptimistis bahwa ide besar ini akan berwujud nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar