Selasa, 12 Agustus 2014

MASA DEPAN PENDIDIKAN DI MADURA PASCA-SURAMADU

Oleh: Fathor Rachman, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah INSTIK Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, tinggal di Pademawu Pamekasan)


Isu industrialisasi yang santer berhembus di Madura setelah pembangunan Jembatan Suramadu, melahirkan pro dan kontra dari masyarakat Madura. Masyarakat yang pro banyak berharap industrialisasi akan melahirkan banyak kemajuan dan kemudahan dalam peningkatan pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Madura. Adapun pendapat yang kontra menganggap bahwa industrialisasi tidak akan mensejahterakan, tetapi sebaliknya akan memarginalisasikan warga Madura dan mengancam terjadinya dekadensi moral yang sangat membahayakan warga Madura, terutama kalangan pemuda dan pelajar.
Sikap di atas sangat wajar dan tidak mengherankan. Sebab, salah satu keberatan orang Madura terhadap isu industrialiasi ini, terutama setelah jembatan Suramadu terealisasi, adalah terjadinya pembangunan Madura yang sepihak dan tidak memberikan ruang partisipasi aktif masyarakat Madura. Hal itu malah hanya akan menguntungkan kelompok-kelompok strategis dan elit tertentu, terutama pihak asing, yang memiliki modal dan kekuatan sumber daya manusia yang memadai.
Seyogyanya, gelombang industrialiasi yang akan terjadi di Madura harus dijadikan peluang strategis sekaligus tantangan positif untuk meningkatkan kualitas dan pemberdayaan diri agar mampu memainkan peranan yang strategis di dalamnya. Akan tetapi, tentu saja industrialisi menurut HAR Tilaar (1998) menuntut adanya masyarakat yang mempunyai keunggulan kompetitif dengan sumber daya manusia mumpuni, dan kekuatan investasi modal intelektual serta penguasaan masyarakat terhadap sarana informasi yang serba superhigh technology. Di samping menuntut kemampuan interpreneurship yang baik, sebab industrialisasi akan ditandai dengan maraknya kehidupan bisnis yang menjanjikan masa depan.
Untuk itu, masyarakat Madura harus menyadari kemampuannya bersaing, karena aktifitas dan pekerjaan dalam industrialiasi menuntut kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan (skill) khusus yang didukung oleh jiwa kewirausahaan yang baik. Hal itu hanya dapat diraih dengan belajar keras dan menuntut ilmu pengetahuan (berpendidikan) setinggi mungkin.
Pendidikan yang berkualitas dan mumpuni akan menyebabkan masyarakat Madura tidak hanya menjadi pemirsa kegiatan industrialisasi yang akan terjadi di daerahnya, tetapi mereka akan mampu bersaing secara wajar melawan siapa saja berdasarkan kemampuan dan pendidikan yang dapat diandalkan.
Untuk itu, membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) merupakan suatu keniscayaan. Ini harus segera ditanamkan melalui lembaga pendidikan sejak dini, mulai dari proses pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi. Kalau tidak, maka industrialisasi di Madura, menurut Peter L. Berger bukan akan mengangkat kehidupan masyarakat yang sejahtera, tetapi hanya akan menjadi beban berat bagi masyarakat Madura sendiri.

Peluang dan Tantangan Pendidikan
Pendidikan, selain sebagai wahana strategis merubah masa depan, juga mempunyai hubungan dialektikal dengan transformasi sosial dan arah pembangunan bangsa. Tentu saja, peran dan peluang strategis ini harus dipertahankan dan dikembangkan seiring dengan isu industrialisasi yang akan terjadi dalam suatu bangsa, termasuk di Madura, lebih-lebih dalam era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kamajuan teknologi dan informasi yang serba superhigh technology.
Hal ini tidak menutup kemungkinan akan menggeser signifikansi peran pendidikan, sehingga menuntut pendidikan untuk terus berbenah diri guna mempertahankan posisi strategisnya tersebut. Untuk itu, lembaga-lembaga pendidikan di Madura harus berupaya untuk melakukan pembenahan dan pemikiran ulang terhadap sistem pendidikan yang selama ini dijalankan dalam menyongsong industrialisasi di Madura.
Dengan demikian, melihat tuntutan industrialisasi yang cukup berat di atas, pendidikan di Madura ke depan harus mampu melahirkan manusia atau masyarakat yang cerdas dan bermartabat. Ciri masyarakat cerdas tentu saja ditandai oleh mayoritas masyarakat yang terdidik, berdiri sendiri, bertanggungjawab dan mampu melakukan peran aktif dalam pembangunan bangsa, serta mempunyai keterampilan dan lapangan kerja yang cukup.
Dalam UUD 1945 pasal 31 (5) amandemen terbaru dinyatakan secara tegas bahwa “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan manusia”. Kaitannya dengan tuntutan-tuntutan industrialisasi di atas, maka selain masyarakat Madura harus cerdas, undang-undang ini menyiratkan suatu pesan bahwa lembaga pendidikan ke depan harus menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai basis pembelajaran agar bisa memajukan peradaban dan dapat mensejahteraan masyarakat.
Oleh karenanya, agar masyarakat Madura mampu memainkan peranan penting dalam konteks pembangunan sosial yang akan berkembang menyongsong industrialisasi, maka ada beberapa hal yang harus segera dipikirkan institusi pendidikan di Madura.
Pertama, perlu dilakukan penelaahan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ada sebagai bentuk transformasi yang menjanjikan eksistensi dan penemuan jati diri siswa atau mahasiswa menghadapi tuntutan zaman modern. Kedua, perlu dikembangkan pembudayaan IPTEK dalam proses pendidikan. Pembudayaan ini dapat dilakukan melalui berbagai jalur pendidikan, baik pendidikan formal, informal dan non-formal maupun melalui organisasi-organisasi sosial yang marak berkembang di Madura.
Hal ini penting sekali dipikirkan karena industrialisasi tidak mungkin ditembus dan ditaklukkan tanpa menciptakan masyarakat Madura yang cerdas, berpendidikan, mandiri, menguasai keterampilan kerja, dan menguasai teknologi dengan baik. Hanya dengan pembudayaan IPTEK inilah kita akan menembus sekat-sekat sulit yang akan diciptakan oleh industrialisasi. Sastrapratedja (2003) mencatat bahwa dengan teknologi memungkinkan manusia berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin atau sukar. Dengan teknologi, sesuatu yang sebelumnya tidak perlu menjadi perlu, begitu sebaliknya. Bahkan dengan teknologi akan menghadapkan kita pada pilihan-pilihan yang memungkikan kita (khusunya masyarakat Madura) banyak memperoleh kesempatan-kesempatan.
Namun demikian semua peluang dan harapan di atas, membutuhkan eksistensi lembaga pendidikan dan lembaga penelitian ilmiah seperti perguruan tinggi yang dikelola secara baik dan professional yang mengupayakan pemerataan dan perluasan layanan pendidikan.
Di samping itu, lembaga pendidikan harus mampu membangun akses dan jaringan yang lebih luas agar bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan tuntutan dan realitas yang akan berkembang seiring dengan masuknya industrialisasi ke Madura. Pertanyaannya, mampukah lembaga pendidikan di Madura melakukan semua ini? Inilah tantangan berat yang harus dipikirkan! 

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Koran KOMPAS Jatim, 

12 April 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM Oleh Fathor Rachman Corporate culture (budaya kerja korpora...