Oleh: Fathor Rachman, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah INSTIK Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, tinggal di Pademawu Pamekasan)
Isu
industrialisasi yang santer berhembus di Madura setelah pembangunan Jembatan
Suramadu, melahirkan pro dan kontra dari masyarakat Madura. Masyarakat yang pro
banyak berharap industrialisasi akan melahirkan banyak kemajuan dan kemudahan
dalam peningkatan pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Madura. Adapun
pendapat yang kontra menganggap bahwa industrialisasi tidak akan
mensejahterakan, tetapi sebaliknya akan memarginalisasikan warga Madura dan
mengancam terjadinya dekadensi moral yang sangat membahayakan warga Madura,
terutama kalangan pemuda dan pelajar.
Sikap di atas sangat wajar dan tidak mengherankan.
Sebab, salah satu keberatan orang Madura terhadap isu industrialiasi ini, terutama
setelah jembatan Suramadu terealisasi, adalah terjadinya pembangunan Madura
yang sepihak dan tidak memberikan ruang partisipasi aktif masyarakat Madura.
Hal itu malah hanya akan menguntungkan kelompok-kelompok strategis dan elit
tertentu, terutama pihak asing, yang memiliki modal dan kekuatan sumber daya
manusia yang memadai.
Seyogyanya, gelombang industrialiasi yang akan
terjadi di Madura harus dijadikan peluang strategis sekaligus tantangan positif
untuk meningkatkan kualitas dan pemberdayaan diri agar mampu memainkan peranan
yang strategis di dalamnya. Akan tetapi, tentu saja industrialisi menurut HAR
Tilaar (1998) menuntut adanya masyarakat yang mempunyai keunggulan kompetitif dengan
sumber daya manusia mumpuni, dan kekuatan investasi modal intelektual serta penguasaan
masyarakat terhadap sarana informasi yang serba superhigh technology. Di
samping menuntut kemampuan interpreneurship yang baik, sebab
industrialisasi akan ditandai dengan maraknya kehidupan bisnis yang menjanjikan
masa depan.
Untuk itu, masyarakat Madura harus menyadari
kemampuannya bersaing, karena aktifitas dan pekerjaan dalam industrialiasi
menuntut kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan (skill)
khusus yang didukung oleh jiwa kewirausahaan yang baik. Hal itu hanya dapat
diraih dengan belajar keras dan menuntut ilmu pengetahuan (berpendidikan)
setinggi mungkin.
Pendidikan yang berkualitas dan mumpuni akan
menyebabkan masyarakat Madura tidak hanya menjadi pemirsa kegiatan industrialisasi
yang akan terjadi di daerahnya, tetapi mereka akan mampu bersaing secara wajar
melawan siapa saja berdasarkan kemampuan dan pendidikan yang dapat diandalkan.
Untuk itu, membudayakan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) merupakan suatu keniscayaan. Ini harus segera ditanamkan
melalui lembaga pendidikan sejak dini, mulai dari proses pendidikan dasar,
menengah hingga pendidikan tinggi. Kalau tidak, maka industrialisasi di Madura,
menurut Peter L. Berger bukan akan mengangkat kehidupan masyarakat yang
sejahtera, tetapi hanya akan menjadi beban berat bagi masyarakat Madura sendiri.
Peluang dan Tantangan Pendidikan
Pendidikan, selain sebagai wahana strategis
merubah masa depan, juga mempunyai hubungan dialektikal dengan transformasi
sosial dan arah pembangunan bangsa. Tentu saja, peran dan peluang strategis ini
harus dipertahankan dan dikembangkan seiring dengan isu industrialisasi yang
akan terjadi dalam suatu bangsa, termasuk di Madura, lebih-lebih dalam era
globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kamajuan teknologi dan informasi yang
serba superhigh technology.
Hal ini tidak menutup kemungkinan akan menggeser
signifikansi peran pendidikan, sehingga menuntut pendidikan untuk terus
berbenah diri guna mempertahankan posisi strategisnya tersebut. Untuk itu,
lembaga-lembaga pendidikan di Madura harus berupaya untuk melakukan pembenahan
dan pemikiran ulang terhadap sistem pendidikan yang selama ini dijalankan dalam
menyongsong industrialisasi di Madura.
Dengan demikian, melihat tuntutan industrialisasi
yang cukup berat di atas, pendidikan di Madura ke depan harus mampu melahirkan
manusia atau masyarakat yang cerdas dan bermartabat. Ciri masyarakat cerdas
tentu saja ditandai oleh mayoritas masyarakat yang terdidik, berdiri sendiri,
bertanggungjawab dan mampu melakukan peran aktif dalam pembangunan bangsa,
serta mempunyai keterampilan dan lapangan kerja yang cukup.
Dalam UUD 1945 pasal 31
(5) amandemen terbaru dinyatakan secara tegas bahwa “Pemerintah memajukan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan
persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan manusia”.
Kaitannya dengan tuntutan-tuntutan industrialisasi di atas, maka selain
masyarakat Madura harus cerdas, undang-undang ini menyiratkan suatu pesan bahwa
lembaga pendidikan ke depan harus menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai basis pembelajaran agar bisa memajukan peradaban dan dapat
mensejahteraan masyarakat.
Oleh karenanya, agar masyarakat Madura mampu
memainkan peranan penting dalam konteks pembangunan sosial yang akan berkembang
menyongsong industrialisasi, maka ada beberapa hal yang harus segera dipikirkan
institusi pendidikan di Madura.
Pertama, perlu dilakukan penelaahan dan pengembangan ilmu
pengetahuan yang ada sebagai bentuk transformasi yang menjanjikan eksistensi
dan penemuan jati diri siswa atau mahasiswa menghadapi tuntutan zaman modern. Kedua,
perlu dikembangkan pembudayaan IPTEK dalam proses pendidikan. Pembudayaan ini
dapat dilakukan melalui berbagai jalur pendidikan, baik pendidikan formal,
informal dan non-formal maupun melalui organisasi-organisasi sosial yang marak
berkembang di Madura.
Hal ini penting sekali
dipikirkan karena industrialisasi tidak mungkin ditembus dan ditaklukkan tanpa
menciptakan masyarakat Madura yang cerdas, berpendidikan, mandiri, menguasai
keterampilan kerja, dan menguasai teknologi dengan baik. Hanya dengan
pembudayaan IPTEK inilah kita akan menembus sekat-sekat sulit yang akan diciptakan
oleh industrialisasi. Sastrapratedja (2003) mencatat bahwa dengan teknologi memungkinkan
manusia berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin atau sukar. Dengan
teknologi, sesuatu yang sebelumnya tidak perlu menjadi perlu, begitu sebaliknya.
Bahkan dengan teknologi akan menghadapkan kita pada pilihan-pilihan yang memungkikan
kita (khusunya masyarakat Madura) banyak memperoleh kesempatan-kesempatan.
Namun demikian semua
peluang dan harapan di atas, membutuhkan eksistensi lembaga pendidikan dan
lembaga penelitian ilmiah seperti perguruan tinggi yang dikelola secara baik
dan professional yang mengupayakan pemerataan dan perluasan layanan pendidikan.
Di samping itu, lembaga
pendidikan harus mampu membangun akses dan jaringan yang lebih luas agar bisa
menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan tuntutan dan realitas yang
akan berkembang seiring dengan masuknya industrialisasi ke Madura.
Pertanyaannya, mampukah lembaga pendidikan di Madura melakukan semua ini?
Inilah tantangan berat yang harus dipikirkan!
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Koran KOMPAS Jatim,
12 April 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar