Ceramah Umum
Kependidikan
URGENSI PENDIDIKAN BAGI GENERASI BANGSA
Oleh: Fathor
Rachman (Utsman)
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hadirin-Hadirat yang dimuliakan Allah SWT….!
Akhir-akhir ini sering kita saksikan berbagai tindakan
amoral dan asusila yang dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Bahkan banyak di antara (oknum) generasi muda saat
ini yang mudah emosi, sering anarkis, dan terlibat pergaulan yang tidak baik
seperti terlibat narkoba, free seks dan lebih sering mengutamakan otot daripada
akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA
tapi sudah merambah dunia kampus (kita tentu masih ingat banyaknya kasus-kasus
kemanusiaan di berbagai kampus dalam negara kita yang tidak mencerminkan sama
sekali sebagai sosok manusia terdidik atau terpelajar).
Selain itu, berita-berita
mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat empat, penguna
narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari
mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh
oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut
terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi
mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang-menyayangi kepada siswa atau
mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan
antar sesama? Atau inikah hasil dari sistem pendidikan kita selama ini ? atau
Inikah akibat dari perilaku para pejabat kita?.
Fenomena tersebut
saudara-saudara mencerminkan bahwa manusia Indonesia, termasuk kita semua, belum
memahami hakekat dan arti penting dari pendidikan yang sebenarnya. Sesungguhnya
saudara-saudara sekalian, pendidikan itu merupakan proses untuk mencetak
manusia yang bisa menghargai nilai-nilai kemanusiaan, dan menjadikan manusia
yang bermoral. Oleh karenanya, pendidikan apapun jenisnya, baik pendidikan
sekolah, madrasah, lebih-lebih pesantren hendaknya mampu mengarahkan anak
didiknya (siswa) ke dalam proses tersebut. Bukan hanya sekedar proses belajar
mengajar yang cukup hanya sekedar mentrasnferkan ilmu pengetahuan. Tetapi yang
penting bagaimana pendidikan itu mampu mewujudkan generasi yang mampu
meneruskan masa depan bangsa dan masa depan kemanusiaan Indonesia yang telah
mengalami berbagai krisis yang tidak kunjung selesai ini.
Para hadirin sekalian…….!
Kita dan saya sebagai Generasi
Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi
penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup, dan dibesarkan di dalam
bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika,
sopan-santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan
hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama. Dan harapan
satu-satunya adalah tentu kita merindukan adanya generasi yang terdidik,
bersekolah, dan lebih dalam lagi yang serius mencari dan mengembangkan
potensinya di dalam dunia pendidikan.
Telah banyak pesan-pesan agama yang mengharuskan kita
berpendidikan atau berilmu pengetahuan untuk meraih masa depan yang penuh
kebahagiaan dan kesejahteraan.
Di dalam Alqur'an telah disebutkan dengan tegas, Allah
menyatakan "yarfa'il llahul ladzina amanu minkum walladzina utul ilma
darajat", Allah akan
meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan dengan beberapa derajat. Tentu saja dalam konteks kekinian yang
dimaksud dengan orang yang berilmu pengetahuan tersebut adalah orang-orang yang
berpendidikan, sebab kita tidak pernah melihat orang yang mampu memainkan
peranan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kecuali memang ia punya
kualitas pendidikan yang tinggi.
Di dalam hadits pun, kita telah dipesankan oleh
Rasullullah SAW bahwa "man arada dunya fa'alaihi bil-ilmi, wa man
aradal akhirah fa'alihi bil-ilmi, wa man arada huma fa'alaihi bi-ilmi,
barang siapa yang ingin kehidupan dunianya terpenuhi maka ia harus berilmu
pengetahuan, dan barang siapa yang ingin kehidupan akhirat maka ia juga harus
berilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin kedua-duanya maka ia juga
harus berilmu pengetahuan.
Lalu siapa yang dimaksud dengan orang yang berilmu
pengetahuan tersebut? Orang berilmu saudara-saudara tentu saja sangat identik
dengan orang yang berpendidikan, orang yang berpendidikan erat kaitannya pula
dengan orang-orang yang bersekolah atau orang yang berproses dalam bangku
pendidikan, entah apapun pendidikannya, baik formal, informal, maupun
non-formal.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pendidikan adalah
asset (kekayaan) bangsa yang perlu dibina dan dikembangkan untuk kemajuan
bangsa sendiri, sebab pendidikan merupakan investasi peradaban. Pernyataan
tersebut mengandung suatu pesan ideologis-edukatif bahwa pendidikan yang akan
menentukan masa depan dan dinamika peradaban dunia. Life is education,
hidup adalah pendidikan, begitulah ‘orang modern’ menyebut dunia pendidikan.
Pendidikan,
selain sebagai wahana strategis merubah masa depan, ia juga mempunyai hubungan
dialektikal dengan transformasi sosial dan arah pembangunan bangsa. Sehingga
seringkali muncul ungkapan bahwa kemajuan suatu bangsa dan negara sangat
ditentukan oleh sejauh mana kualitas pendidikan yang dikembangkan. Bahkan
para pakar pendidikan dari berbagai negara manapun dengan tegas mnayatakan bahwa
pendidikan merupakan icon yang sangat signifikan dalam memberikan
kontribusi terhadap kemajuan bangsa, dan wahana yang tepat untuk menyampaikan
pesan-pesan konstitusi, serta sarana dalam membangun watak atau karakter bangsa
(Nation Character Building).
Sadara-saudara yang
terhormat….dan yang dimuliakan Allah SWT….!
Dulu, tujuan
utama bangsa ini dibangun adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara
sesuai amanat UUD negara kita. Tetapi sayang, tujuan mulia tersebut belum kita
saksikan secara merata. Buktinya, masyarakat kita masih banyak yang buta huruf,
buta aksara, dan yang lebih parah lagi kebodohan masih sangat dirasakan oleh
bangsa kita. Semua ini akibat dari masyarakat kita, termasuk pemerintah belum
menyadari secara totalitas akan arti pentingnya pendidikan.
Coba saja kita
lihat hasil laporan World Competetiveness Yearbook tahun 2000, bahwa
daya saing SDM Indonesia berada di posisi 46 dari 47 negara. Sungguh posisi
yang sangat tragis dan memalukan. Ini akibat dari rendahnya pendidikan bangsa
kita dan merupakan dampak dari banyaknya generasi kita yang bodoh, tidak
bersekolah, dan tidak menghargai sama sekali hakekat dan pentingnya pendidikan.
Lalu siapa yang akan bertanggungjawab?.
Oleh karena
itu saudara-saudara, sudah saatnya kita harus maju, kita harus bangkit
membangun bangsa ini melalui jalur dunia pendidikan. Kita sudah sangat lelah dan
kapok mengalami krisis yang berkepanjangan ini. Kita tidak punya harapan lagi
kecuali dengan cara mari kita bangun generasi bangsa ini dengan pendidikan
setinggi-tingginya.
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi
semua umat, pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan
individu dan masyarakat (society). Pendidikan merupakan alat untuk
memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat dan membuat generasi mampu
berbuat banyak bagi kepentingan mereka.
Syekh Mustafha
al-Ghalayini, pengarang kitab "Iddhatun Nasyi'in", pernah
mengingatkan kita, terutama generasi muda, bahwa masa depan bangsa ini ada di
tangan kita, dan bahwa segala persoalan bangsa ini sangat ditentukan oleh kita
generasi muda sebagai tulang punggung negara.
Pertanyaannya
sekarang, siapa yang berhak menyandang predikat itu? Pemuda yang seperti apa
yang mampu mengemban amanat agung tersebut? Tentu saja saudara-saudara,
generasi yang dimaksud dalam pernyataan beliau tersebut adalah pemuda yang
terdidik, punya potensi, dan yang punya semangat serta komitmen kuat terhadap
dunia pengetahuan dan dunia kependidikan. Yang semuanya ia gunakan untuk
kemajuan umat dalam kehidupan, masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dengan
demikian, sudah saatnya kita membangun diri menjadi manusia dan generasi yang
berkualitas. Dan saya yakin tempat yang tepat untuk itu adalah dunia pendidikan
dengan beberapa alasan logis yang telah disebutkan di atas. Kalau tidak, tentu
kita akan menyesal selama hidup kita.
Ada sebuah
syair yang dapat kita renungkan "Man lam yadzuqqa murrot ta'allumi
sya'atan, tajarra'a dzullal jahli tula hayatihi", barang siapa yang
tidak pernah merasakan pahitnya belajar (sekolah/berpendidikan) satu jam saja,
maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Terakhir pesan
saya, mari isi hidup kita dengan ilmu, mari kita habiskan hidup ini dengan
pendidikan, mari kita sekolah, dan mari kita hidupi dunia pendidikan untuk
kemajuan kita, keluarga kita, masyarakat kita, serta bangsa dan negara kita.
Demikianlah
uraian singkat sebagai ceramah umum tentang pentingnya pendidikan bagi
kehidupan kita. Kurang lebihnya kami mohon maaf.
Wassalamua'alaikum Wr. Wb.
Penulis: Fathor Rachman (Utsman)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar