Jumat, 12 Agustus 2016

CERAMAH Kependidikan: URGENSI PENDIDIKAN BAGI GENERASI BANGSA



Ceramah Umum Kependidikan
URGENSI PENDIDIKAN BAGI GENERASI BANGSA
Oleh: Fathor Rachman (Utsman)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hadirin-Hadirat yang dimuliakan Allah SWT….!
Akhir-akhir ini sering kita saksikan berbagai tindakan amoral dan asusila yang dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Bahkan banyak di antara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi, sering anarkis, dan terlibat pergaulan yang tidak baik seperti terlibat narkoba, free seks dan lebih sering mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (kita tentu masih ingat banyaknya kasus-kasus kemanusiaan di berbagai kampus dalam negara kita yang tidak mencerminkan sama sekali sebagai sosok manusia terdidik atau terpelajar).
Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang-menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistem pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat dari perilaku para pejabat kita?.
Fenomena tersebut saudara-saudara mencerminkan bahwa manusia Indonesia, termasuk kita semua, belum memahami hakekat dan arti penting dari pendidikan yang sebenarnya. Sesungguhnya saudara-saudara sekalian, pendidikan itu merupakan proses untuk mencetak manusia yang bisa menghargai nilai-nilai kemanusiaan, dan menjadikan manusia yang bermoral. Oleh karenanya, pendidikan apapun jenisnya, baik pendidikan sekolah, madrasah, lebih-lebih pesantren hendaknya mampu mengarahkan anak didiknya (siswa) ke dalam proses tersebut. Bukan hanya sekedar proses belajar mengajar yang cukup hanya sekedar mentrasnferkan ilmu pengetahuan. Tetapi yang penting bagaimana pendidikan itu mampu mewujudkan generasi yang mampu meneruskan masa depan bangsa dan masa depan kemanusiaan Indonesia yang telah mengalami berbagai krisis yang tidak kunjung selesai ini.

Para hadirin sekalian…….!
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup, dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan-santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama. Dan harapan satu-satunya adalah tentu kita merindukan adanya generasi yang terdidik, bersekolah, dan lebih dalam lagi yang serius mencari dan mengembangkan potensinya di dalam dunia pendidikan.
Telah banyak pesan-pesan agama yang mengharuskan kita berpendidikan atau berilmu pengetahuan untuk meraih masa depan yang penuh kebahagiaan dan kesejahteraan.
Di dalam Alqur'an telah disebutkan dengan tegas, Allah menyatakan "yarfa'il llahul ladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat",  Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Tentu saja dalam konteks kekinian yang dimaksud dengan orang yang berilmu pengetahuan tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan, sebab kita tidak pernah melihat orang yang mampu memainkan peranan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kecuali memang ia punya kualitas pendidikan yang tinggi.
Di dalam hadits pun, kita telah dipesankan oleh Rasullullah SAW bahwa "man arada dunya fa'alaihi bil-ilmi, wa man aradal akhirah fa'alihi bil-ilmi, wa man arada huma fa'alaihi bi-ilmi, barang siapa yang ingin kehidupan dunianya terpenuhi maka ia harus berilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin kehidupan akhirat maka ia juga harus berilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin kedua-duanya maka ia juga harus berilmu pengetahuan.
Lalu siapa yang dimaksud dengan orang yang berilmu pengetahuan tersebut? Orang berilmu saudara-saudara tentu saja sangat identik dengan orang yang berpendidikan, orang yang berpendidikan erat kaitannya pula dengan orang-orang yang bersekolah atau orang yang berproses dalam bangku pendidikan, entah apapun pendidikannya, baik formal, informal, maupun non-formal.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pendidikan adalah asset (kekayaan) bangsa yang perlu dibina dan dikembangkan untuk kemajuan bangsa sendiri, sebab pendidikan merupakan investasi peradaban. Pernyataan tersebut mengandung suatu pesan ideologis-edukatif bahwa pendidikan yang akan menentukan masa depan dan dinamika peradaban dunia. Life is education, hidup adalah pendidikan, begitulah ‘orang modern’ menyebut dunia pendidikan.
Pendidikan, selain sebagai wahana strategis merubah masa depan, ia juga mempunyai hubungan dialektikal dengan transformasi sosial dan arah pembangunan bangsa. Sehingga seringkali muncul ungkapan bahwa kemajuan suatu bangsa dan negara sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas pendidikan yang dikembangkan. Bahkan para pakar pendidikan dari berbagai negara manapun dengan tegas mnayatakan bahwa pendidikan merupakan icon yang sangat signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa, dan wahana yang tepat untuk menyampaikan pesan-pesan konstitusi, serta sarana dalam membangun watak atau karakter bangsa (Nation Character Building).

Sadara-saudara yang terhormat….dan yang dimuliakan Allah SWT….!
Dulu, tujuan utama bangsa ini dibangun adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara sesuai amanat UUD negara kita. Tetapi sayang, tujuan mulia tersebut belum kita saksikan secara merata. Buktinya, masyarakat kita masih banyak yang buta huruf, buta aksara, dan yang lebih parah lagi kebodohan masih sangat dirasakan oleh bangsa kita. Semua ini akibat dari masyarakat kita, termasuk pemerintah belum menyadari secara totalitas akan arti pentingnya pendidikan.
Coba saja kita lihat hasil laporan World Competetiveness Yearbook tahun 2000, bahwa daya saing SDM Indonesia berada di posisi 46 dari 47 negara. Sungguh posisi yang sangat tragis dan memalukan. Ini akibat dari rendahnya pendidikan bangsa kita dan merupakan dampak dari banyaknya generasi kita yang bodoh, tidak bersekolah, dan tidak menghargai sama sekali hakekat dan pentingnya pendidikan. Lalu siapa yang akan bertanggungjawab?.
Oleh karena itu saudara-saudara, sudah saatnya kita harus maju, kita harus bangkit membangun bangsa ini melalui jalur dunia pendidikan. Kita sudah sangat lelah dan kapok mengalami krisis yang berkepanjangan ini. Kita tidak punya harapan lagi kecuali dengan cara mari kita bangun generasi bangsa ini dengan pendidikan setinggi-tingginya.
 Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat, pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat (society). Pendidikan merupakan alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka.
Syekh Mustafha al-Ghalayini, pengarang kitab "Iddhatun Nasyi'in", pernah mengingatkan kita, terutama generasi muda, bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan kita, dan bahwa segala persoalan bangsa ini sangat ditentukan oleh kita generasi muda sebagai tulang punggung negara.
Pertanyaannya sekarang, siapa yang berhak menyandang predikat itu? Pemuda yang seperti apa yang mampu mengemban amanat agung tersebut? Tentu saja saudara-saudara, generasi yang dimaksud dalam pernyataan beliau tersebut adalah pemuda yang terdidik, punya potensi, dan yang punya semangat serta komitmen kuat terhadap dunia pengetahuan dan dunia kependidikan. Yang semuanya ia gunakan untuk kemajuan umat dalam kehidupan, masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dengan demikian, sudah saatnya kita membangun diri menjadi manusia dan generasi yang berkualitas. Dan saya yakin tempat yang tepat untuk itu adalah dunia pendidikan dengan beberapa alasan logis yang telah disebutkan di atas. Kalau tidak, tentu kita akan menyesal selama hidup kita.
Ada sebuah syair yang dapat kita renungkan "Man lam yadzuqqa murrot ta'allumi sya'atan, tajarra'a dzullal jahli tula hayatihi", barang siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya belajar (sekolah/berpendidikan) satu jam saja, maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Terakhir pesan saya, mari isi hidup kita dengan ilmu, mari kita habiskan hidup ini dengan pendidikan, mari kita sekolah, dan mari kita hidupi dunia pendidikan untuk kemajuan kita, keluarga kita, masyarakat kita, serta bangsa dan negara kita.
Demikianlah uraian singkat sebagai ceramah umum tentang pentingnya pendidikan bagi kehidupan kita. Kurang lebihnya kami mohon maaf.

Wassalamua'alaikum Wr. Wb.

Penulis: Fathor Rachman (Utsman)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE

MEMBANGUN CORPORATE CULTURE DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM Oleh Fathor Rachman Corporate culture (budaya kerja korpora...